Pertumbuhan di negara maju tetap moderat seiring dengan pengangguran yang masih tinggi dan persisten, belum kuatnya konsumsi, serta meningkatnya kekhawatiran terhadap sustainabilitas fiskal. Di triwulan laporan, walaupun fundamental ekonomi masih lemah, pertumbuhan AS menguat sebagai dampak peningkatan konsumsi yang lebih baik dari perkiraan sebelumnya. Namun, kekhawatiran sustainabilitas fiskal negara maju meningkat seiring dengan merebaknya masalah fiskal di Irlandia, walaupun spillover krisis tersebut dapat di redam keluar wilayah dari Kawasan Euro. Sebaliknya, pertumbuhan ekonomi negara berkembang terutama di Kawasan Aspac, dimotori oleh China dan India, tetap kuat seiring dengan resiliennya permintaan domestik yang terus mendukung aktivitas ekonomi. Namun, ekspansinya lebih moderat dibandingkan semester pertama sebagai dampak melambatnya permintaan eksternal dan berkurangnya stimulus fiskal. Dengan perkembangan tersebut pertumbuhan Global secara tahunan di 2010 akan mencapai 5% yoy (WEO-IMF, Update Januari 2010), membaik dari kontraksi 0,6% yoy di 2009.
Sepanjang 2010, tekanan inflasi global meningkat seiring dengan pemulihan ekonomi global dan peningkatan harga komoditas global. Inflasi di negara maju maupun negara berkembang meningkat, masing-masing mencapai 1,5% dan 6,3% di 2010, dibandingkan 0,1% dan 5,2% di 2009. Tekanan inflasi di kawasan Aspac meningkat signifikan yang tercermin dari peningkatan inflasi telah melebihi target bahkan gejala overheating perekonomian juga mulai tampak di beberapa negara. Meningkatnya harga pangan akibat ganguan pasokan dan harga energi seiring dengan kuatnya permintaan berada di balik peningkatan tekanan inflasi tersebut. Sementara di negara maju peningkatan tekanan inflasi masih terkendali seiring dengan masih lemahnya konsumsi.
Ke depan, pemulihan ekonomi global dengan kecepatan yang berbeda masih berlanjut. IMF memproyeksi pertumbuhan ekonomi global di 2011 dan 2012 masing-masing sebesar 4,4% dan 4,5%. Pertumbuhan negara maju lebih moderat, ditopang oleh berlanjutnya kebijakan akomodatif terutama di AS dan Jepang berupa quantitative easing tahap II di akhir 2010. Kuatnya pertumbuhan ekonomi Jerman diharapkan mampu meng-offset penurunan pertumbuhan ekonomi di negara peripheri kawasan Euro yang sedang dalam proses pemulihan krisis fiskal. Sementara negara berkembang terutama Kawasan Aspac tetap tumbuh kuat walaupun dengan kecepatan ekspansi yang lebih moderat. Proyeksi tersebut mencerminkan kuatnya permintaan domestik di sebagian besar negara di kawasan, terutama China dan India. Sejalan dengan proyeksi tersebut, tekanan inflasi di kedua kawasan tetap tinggi, yaitu sebesar 1,6% di 2011 dan 2012 (kawasan negara maju), dan masing-masing 6,0% dan 4,8% pada 2011 dan 2012 (kawasan negara berkembang).

Narasumber : Biro Hubungan dan Studi Internasional, Direktorat Internasional Bank Indonesia