Pendahuluan ; Kementerian Perhubungan segera membangun rel kereta api sepanjang 20 km dari Bandar Tinggi-Kuala Tanjung, Kabupaten Batubara, Sumut dengan investasi sedikitnya Rp600 miliar. Dirjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan Tundjung Inderawan membenarkan pembangunan rel kereta api untuk menghubungkan Bandar Tinggi-Kuala Tanjung saat ini sudah memasuki studi kelayakan dan pelepasan lahan.
“Pada 2011 diharapkan sudah mulai dibangun dan beroperasi, sehingga angkutan barang berupa kargo dan minyak sawit sudah dapat dilakukan dari Pelabuhan Kuala Tanjung,”
Isi ; Setelah melakukan peninjauan lapangan, ternyata konektiviti intermoda di Sumut mendesak untuk dilakukan untuk mengurangi kemacetan dan kerusakan jalan darat.
“Ada tuntutan pasar yang begitu besar untuk membangun jalur kereta api dari Bandar Tinggi menuju Kuala Tanjung sepanjang 20 km. Oleh karena itu, Kementerian Pehubungan memprioritaskan pembangunan angkutan barang dengan membangun konektivitas moda transportasi darat dan laut.”
Dia memaparkan potensi minyak sawit mentah yang bisa diangkut lewat kereta api setiap tahun mencapai 2,2 juta ton dari produksi CPO Sumut sebesar 4,5 juta ton. Selama ini, paparnya, baru 450.000 ton CPO diangkut kereta api. “Peluang iniharus ditangkap kereta api. Dalam perjalannya, kalau permintaan penumpang tinggi, bukan tidak mungkin kereta api penumpang akan ditambah,” tuturnya.
Dia menilai transportasi CPO dengan menggunakan truk sangat tidak efisien. Selain ongkosnya mahal, tuturnya, resikonya terlalu tinggi. “Belum lagi pencurian ditengah jalan yang dilakukan pihak lain.”
Untuk menekan ongkos, tuturnya, angkutan CPO akan lebih efisien menggunakan kereta api. Dengan alasan itulah Kementerian Perhubungan membangun rel kereta api dari Bandar Tinggi-Kuala Tanjung.
Ketika ditanyakan mengenai pembebasan lahan, menurut dia, hanya hanya 15 hektare-20 hektare milik masyarakat dan perkebunan swasta, sisanya milik PT Inalum. “Soal pembebasan lahan Pemkab Batubarasudah menyatakan kesiapannya melakukan pembebasan.”
Dia optimis jalur lintas kereta api Bandar Tinggi-Kuala Tanjung bakal menjadi primadona karena jalur angkutan menuju Belawan semakin padat dan ongkosnya terlalu mahal.
Sebelumnya, Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara (PTPN) III Medan Amri Siregar sudah menyiapkan kawasan industri berbasis crude palm oil (CPO) di Sei Mangkei seluas 3.000 hektare. Kawasan terpadu industri hilir CPO tersebut, paparnya, akan tersambung dengan jalur kereta api, sehingga seluruh produksi yang dihasilkan di kawasan industri Sei Mangkei diangkut lewat Pelabuhan Kuala Tanjung.
“Prasarana rel sudah disiapkan pemerintah. Tinggal menyambung ke kawasan industri Sei Mangkei,” tuturnya.
Dirut PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) I Medan Harri Sutanto mengakui sudah meningkatkan status Kuala Tanjung menjadi cabang dalam rangka mengantisipasi melonjaknya angkutan barang dari pelabuhan tersebut.
“Kami baru mengelola dermaga sepanjang 80 meter di Kuala Tanjung. Sedangkan pemanduan, langsung ditangani Pelabuhan Kuala Tanjung.Pelabuhan yang dikelola Inalun sepanjang 350 meter dapat digunakan jika ada kapal besar yang sandar,” tuturnya.
Dia mengakui ke depan Pelabuhan Kuala Tanjung akan mendapatkan pembenahan dari manajemen Pelindo I Medan untuk mengatasi menumpuknya angkutan barang dari dan ke Pelabuhan Belawan.
Dia membenarkan perusahaan swasta yang sudah beroperasi di Kuala Tanjung seperti PT Multi Nabati Asahan siap membangun tangki timbun untuk menampung minyak sawit mentah dan produk turunannya. Dukungan juga  kami harapkan dari pemerintah  setempat khususnya dalam pengurusan  perizinan, revisi Rencana  Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan  pembangunan jalan kereta api  dari Stasiun Bandar Tinggi ke  Kuala Tanjung,”pungkasnya

Penutup ; menurut saya, bila memang pembangunan jalur KA  diperlukan dan dana sudah memadai maka lebih baik dilakukan lebih cepat demi tercapainya kepentingan bersama.

 

Sumber : Harian Seputar Indonesia – Google Warta, (http://bappeda.batubarakab.go.id)